Selasa, 23 Juni 2020

Surat Yang Entah Sampai Pada Pemiliknya Atau Tidak

Ingin kukatakan,

"Kupikir tak ada lagi kita, dari tahun ke tahun aku menahan dan menyiapkan diri untuk segala yang terburuk tapi tak pernah terjadi "

Tapi kalimat itupun tak pernah terucap. Kita seperti dua orang asing yang selalu terjebak oleh momen. Terlalu sering bersama, tapi tak tahu harus bicara apa.

Esok atau puluhan tahun mendatang, atau barangkali saat aku mulai lupa, biar tulisan ini bisa jadi pengingat diri. Bahwa pada suatu masa ada yang terngiang-ngiang di kepala tentang apa yang tak bisa terucap, maupun yang tak bisa dicabut kembali. Maka kutulis sebuah surat entah sampai atau tidak, entah melalui orang kesekian atau langsung kepada si penerima. Inilah suratku:

Kau adalah orang yang punya hati tulus, sifat yang baik, jujur, berpikiran terbuka, berwawasan luas, terpelajar, berbudi pekerti, dan memiliki hati yang lapang dalam memandang berbagai hal. Kekayaanmu adalah semua pribadi baik itu, yang tidak semua orang punya, tapi kau punya dalam dirimu. Tapi aku tak pernah memuji di depanmu langsung. Sengaja aku tidak mau memuji lebih awal. Aku tahu kau telah melewati banyak hal, tapi perjalananmu masih panjang. Aku pun tidak tahu pasti, akan jadi apa kita kelak di kemudian hari. 

Aku sendiri sedang belajar, sungguh tidak mau jadi wanita angkuh dan memiliki hati seperti kaca, rapuh dan manja maksudku. Meskipun ya, sejujurnya akupun suka dimanja, aku bahagia saat kau bermanis-manis dalam tingkah lakumu. Kau tahu cara bersikap di hadapan perempuan. Dari siapa kau belajar?

Pada malam itu, hari di mana kartu-kartu bertebaran di meja, aku tahu pasti bahwa kesempatan jelas tidak datang dua kali. Petir tidak menyambar dua kali di tempat yang sama! Tapi pikiranku berputar-putar untuk memikirkan jawaban yang tepat, aku merangkai kata agar tak menyesalinya di kemudian hari (orang harus berpikir sebelum berkata kan?).

Maka kuputuskan saat itu juga: Aku tidak ingin berbicara dalam keadaan bercanda seperti itu. Tidak, sebuah rasa tidak sebercanda itu. 4 tahun. Perasaanku jauh lebih berharga daripada kartu-kartu di meja. 

sementara keputusanku kuanggap tepat seperti ini. Aku telah berdiri dalam kesadaranku.

Jadi, kau adalah orang baik. Terbaik yang pernah kutemui dalam hidupku. Aku menjaga dengan hati-hati seperti sebuah guci poselen. 

Aku ingin menjadi perempuan yang kuat dan setara di sisimu, supaya jadi teman diskusi dan ngobrol yang baik. Dan membantumu dalam membuat keputusan-keputusan penting. Perempuan pun harus berani menyatakan pendapat kan? Sekalipun belum tentu benar. Aku ingin jadi perempuan tabah. Tak takut pada kekeliruan dan mau belajar dari kesalahan. Pribadimu mampu menerimaku yang seperti itu. Bagaimana? Aku sangat ingin tahu pendapatmu tentang aku. 

Apa aku terlalu keras pada diri sendiri? Atau justru sifatku berkebalikan dari apa yang kutulis? Coba katakan padaku agar aku memperbaiki diri.

Dari semua hal yang kutulis di atas, bersamamu aku bisa berkembang dan belajar banyak hal. Pribadimu sangat baik, kau adalah guru kehidupan bagiku. Tapi, entah takdir nanti bagaimana, andaikan aku tanpamu (semoga) akan tetap baik-baik saja dan hidup sebagaimana mestinya. Perempuan harus bisa berdiri di kakinya sendiri, kan? Aku jangan menggantungkan hidup dan bahagiaku padamu, kan? Tidak, tak akan kugantungkan kebahagiaanku sepenuhnya di pundakmu. Itu tanggung jawab diri masing-masing. 

Kota B. 2020
Aku yang selalu mengagungkanmu.

Senin, 22 Juni 2020

5 Fase dalam Berduka

"Allah menempatkan orang-orang dalam kehidupan kita pada waktu tertentu sesuai dengan alasan tertentu, dan menghapus mereka dari kehidupan kita pada waktu tertentu"

Beberapa bulan lalu, seorang teman bercerita bahwa ia ditinggal menikah. Sejujurnya aku tidak tahu harus merespon bagaimana karena aku belum pernah mengalami fase ini. Ditambah teman ini lebih tua dariku, sehingga aku harus memilih kata dan merangkai kalimat yang tepat agar tidak menyinggung atau membuatnya lebih sedih. Aku tidak merasa percakapan kami berjalan dengan baik. Perkaranya simpel: temanku menceritakan berita kehilangan yang kurespon sebagaimana halnya ketika kita mendengar kabar duka. Tapi ternyata temanku menyangkal semua rasa yang kuyakin seharusnya itulah yang dia rasakan. 

Oke, biar kupersingkat: dia menceritakan cerita sedih. Tapi mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja dan tidak berharap apapun. Otomatis, otakku yang belum paham ini bertanya-tanya: 

"Bagaimana bisa kau berkata bahwa kau baik-baik saja? Jika memang baik-baik saja, ini tentu bukan masalah besar untukmu. It's a denial. Kau tak mau mengakui perasaanmu" 

                                          instagram: @jejynnkt

Kemudian seminggu yang lalu, kejadian serupa terulang. Seorang teman tiba-tiba mengirim pesan whatsapp mengatakan bahwa ia ditinggal menikah pacarnya. 
Hal yang sama terulang kembali, seperti cerita beberapa bulan yang lalu. Sebuah penyangkalan. Hanya saja lagi-lagi aku tidak tahu apa yang harus kulakukan. Aku tidak paham. Dan kalaupun harus mencari penjelasannya di google, kata kunci apa yang harus kutulis? 

Sampai akhirnya tadi sore aku menonton Deadpool 2 di TV. Saat itu, Wade frustasi karena Vanessa (istrinya) meninggal tertembak oleh penjahat yang menyusup ke rumahnya. Kemudian di sebuah kedai minum, temannya berkata kepada Wade, "Penyangkalan adalah satu dari 5 tahap berduka".

Seakan mendapat petunjuk untuk masalahku, aku langsung mencari di google dengan kata kunci dari film Deadpool tersebut: 5 Tahap Fase Berduka

Teori yang dikembangkan oleh seorang psikiater Elisabeth Kübler-Ross memaparkan bahwa kita akan melalui stages of grief atau tahap kesedihan saat mengalami kehilangan. tahap kesedihan itu dalam menjadi 5, yaitu:

1. Penyangkalan (denial)
Seperti yang kuduga, berdasarkan pengalaman dari cerita teman-temanku di atas, penyangkalan adalah reaksi yang normal. Ini memang tahap pertama dalam fase kehilangan, berguna untuk membantu meminimalkan rasa sakit dari situasi kehilangan yang tengah dihadapi seseorang. 

2. Marah (anger)
Tahap kedua adalah penyesuaian diri terhadap kenyataan. Dan hal itu diluapkan dengan perasaan marah. Pikiran kita mengatakan harus ada yang disalahkan atas semua kesedihan ini. Maka rasa marahpun masih normal dirasakan asal tidak kelewat batas. 

3. Menawar (bargaining)
Setelah rasa marah reda, kita akan mulai memikirkan kalimat pengandaian, seperti "Seandainya aku kemarin lebih perhatian", atau "seandainya ia lebih awal dibawa ke dokter", dsb. 

Yang seperti ini adalah tahap ketiga dalam fase berduka. Tujuannya adalah agar mendapat kekuatan dari kedukaan, kehilangan, dan rasa sakit.

Ini adalah fase yang paling kuingat dalam hidupku saat dalam menghadapi kehilangan. Antara marah, menyesal, sedih, bercampur jadi satu. Setiap hari tak pernah usai berandai. Pikirku, seandainya aku begini atau aku begitu, maka semua hal menyedihkan ini tak akan pernah terjadi. 

Tapi perlu diingat bahwa berandai-berandai selalu membuka celah setan di kepala kita. Membuat kita mengingkari takdir, dan sulit untuk ikhlas. Sibuk berandai-andai tak ada gunanya, tak akan mengubah apapun. Tahap bargaining ini pasti akan dilalui oleh setiap orang yang berduka, tapi jangan lama-lama ya! :) 

4. Depresi (depression)
Seiring berjalannya waktu, emosi kita mulai mereda dan kini harus benar-benar melihat kenyataan yang terjadi. Merasa sedih adalah hal wajar. Namun bila merasa sangat sedih, tidak berdaya, dan tidak dapat melewati tahap ini, bicarakan dengan orang-orang terdekat atau psikolog ya! :) 

5. Penerimaan (acceptance)
Sampailah kita pada tahap akhir. Mengenai kehilangan, akhirnya kita mampu menerimanya dengan hati ikhlas bahwa ini memang bagian dari rencana-Nya. Mungkin kita masih merasa sedih. Namun tidak apa-apa, bahagia dan duka tak akan bertahan selamanya. Kita akan belajar untuk hidup dengan situasi seperti ini. 

                                                             sumber: pinterest

Orang akan datang silih berganti dalam kehidupan kita. Aku menulis ini bukan untuk siapapun tapi untuk diriku. Kelak ketika aku dihadapkan pada kesedihan lagi, biar tulisan ini jadi pengingatku. 

Ikhlaskan... Lepaskan...
Beberapa duka sengaja ditoreh untuk menguatkan diri, agar ikhlas bersarang dalam hati, dan menyadari hanya Allah SWT yang tak pernah pergi :) 

Semangat, kamu pasti bisa melalui ini :) 


Minggu, 03 April 2016

Food Lover


Make up Wake up

girls WEAPON!
whats RED are you?

Matcha Ice Cream



When Im cheking in Grand Pacific Hotel Johon Bahru- Malaysia, I forget to eat some food. it was 00:00 o'clock and Im so hungry. so I walk around to find some mini market like Seven Eleven and then, taadaaaa! Matcha Kitkat plus some Pringles in my hand

Just Be You

I am so beautiful, sometimes people weep when they see me. And it has nothing to do with what I look like really....
it is just that I gave myself the power to say that I am beautiful, and if I could do that, maybe there is hope for them too. 

And the great divide between the beautiful and the ugly will cease to be. Because we are all what we choose

What Makes You Beautiful

Girls of all kinds can be beautiful – from the thin, plus-sized, short, very tall, ebony to porcelain-skinned; the quirky, clumsy, shy, outgoing and all in between.
It’s not easy though because many people still put beauty into a confining, narrow box…

just Think outside of the box…Pledge that you will look in the mirror and find the unique beauty in you :))
Happy Monday, Happy working or on duty. May Allah always blessed you